“Diduga Mark Up! Jalan Rabat Beton di Rena Jaya Rusak Hitungan Hari Usai Dibangun”

Bengkulu utara, swara-indonesia.com 08/08/2025- Pembangunan jalan rabat beton di Desa Rena Jaya, Kecamatan Giri Mulya, Kabupaten Bengkulu Utara, menuai sorotan publik. Jalan sepanjang 186 meter yang menelan anggaran sebesar Rp192.818.000 dari Dana Desa tersebut kini menunjukkan tanda-tanda kerusakan, meskipun baru selesai dibangun dalam hitungan hari.

Kerusakan terlihat jelas di beberapa titik jalan, dengan permukaan yang mulai berlubang dan genangan air yang muncul saat hujan turun. Kondisi ini memunculkan kecurigaan di kalangan warga mengenai kualitas pengerjaan proyek, bahkan tak sedikit yang menduga adanya mark up dana dalam proses pelaksanaannya.

Warga setempat menyayangkan hasil pembangunan yang dinilai tidak sebanding dengan dana yang dikeluarkan. Salah satu tokoh masyarakat menyebut, “Kami berharap jalan ini bisa bertahan lama, tapi baru sebentar selesai, sudah rusak begini. Sangat disayangkan jika dana desa digunakan tanpa pengawasan ketat.”

Proyek ini dilaksanakan secara swakelola oleh TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) desa, dengan masa pengerjaan selama 120 hari di RT 06 Dusun 01. Meski begitu, kerusakan dini ini mengindikasikan kemungkinan adanya kekurangan dalam kualitas material maupun proses pembangunan.

Masyarakat berharap agar pihak berwenang, termasuk inspektorat daerah dan aparat penegak hukum, segera turun tangan untuk menyelidiki potensi penyimpangan dalam penggunaan dana desa. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran publik menjadi harapan utama agar kepercayaan warga terhadap pemerintah desa tetap terjaga.

(Redaksi/Dedy Koboy)

Tragedi Salat Zuhur: Remaja di Bengkulu Bunuh Ibu Kandung Sendiri

Tragedi Salat Zuhur: Remaja di Bengkulu Bunuh Ibu Kandung Sendiri

Bengkulu swara-indonesia.com 03/08/2025– Warga Jalan Manggis 1, Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu diguncang oleh peristiwa tragis pada Sabtu siang, 2 Agustus 2025. Seorang remaja perempuan berinisial NR (18) diduga membunuh ibu kandungnya sendiri, YT (49), saat sang ibu tengah menunaikan salat Zuhur di dalam rumah.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Berdasarkan keterangan awal pihak kepolisian dan saksi, NR menyerang ibunya dengan batu cobek hingga korban tersungkur, lalu melanjutkan serangan dengan pisau dapur hingga korban meninggal dunia di tempat kejadian.

Setelah melakukan aksinya, pelaku keluar rumah dalam keadaan panik dan menuju ke rumah tetangganya. Di sana, ia mengaku telah membunuh ibunya sendiri.

“Dia datang ke rumah kami dalam kondisi panik dan mengatakan kalau dia sudah membunuh ibunya. Kami sempat mengira itu hanya halusinasi, tapi ternyata benar,” kata Ice, salah satu tetangga korban.

Warga yang mendengar pengakuan itu segera melapor ke Polsek Gading Cempaka. Tim gabungan dari Resmob Macan Gading Polresta Bengkulu dan Unit Opsnal Polsek tiba di lokasi dan langsung mengamankan pelaku. Sementara itu, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Bengkulu untuk visum.

Informasi yang diperoleh dari pihak kepolisian dan keluarga menyebutkan bahwa NR diketahui memiliki riwayat gangguan mental dan baru beberapa hari sebelumnya kembali ke rumah setelah menjalani perawatan kejiwaan. Hal ini membuat pihak kepolisian melakukan pendekatan khusus dalam proses pemeriksaan dan penyelidikan.

“Pelaku diketahui memiliki riwayat medis tertentu terkait kesehatan jiwanya. Pemeriksaan saat ini dilakukan dengan pendampingan ahli psikologi klinis,” ujar seorang perwira dari Polresta Bengkulu.

Kondisi kejiwaan pelaku kini tengah diobservasi lebih lanjut oleh tim medis guna menentukan langkah penanganan
Warga sekitar menyampaikan keterkejutannya atas insiden ini. Meski mengetahui bahwa NR memiliki kondisi khusus, mereka tak pernah menyangka akan terjadi tindakan sekejam ini.

“Kami tahu anaknya jarang bersosialisasi, tapi selama ini ibunya sabar dan perhatian sekali. Kejadian ini benar-benar di luar dugaan,” ujar seorang warga.

Menanggapi peristiwa ini, psikolog klinis Dr. Hana Rachmawati mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap pasien gangguan jiwa pascapemulangan ke rumah. Menurutnya, banyak kasus tragis terjadi karena tidak adanya sistem pendukung yang cukup kuat setelah pasien keluar dari fasilitas medis.

“Pasien dalam masa pemulihan harus mendapat pendampingan psikososial secara rutin, termasuk pemantauan konsumsi obat dan kondisi emosi hariannya. Tanpa itu, risiko kambuh dan tindakan agresif sangat mungkin terjadi,” jelasnya.

Hingga kini, kasus masih dalam penanganan pihak kepolisian dan tim medis. Pihak keluarga korban juga masih dalam keadaan berduka dan belum memberikan pernyataan resmi kepada media.

Redaksi/Dedy Koboy